Kategori
Blog

100 Hari

Tanggal 17 September 2020 tepat 100 hari-nya.

Bapaknya bernama Sahid dan ibunya saya agak sedikit lupa.

Semasa hidupnya dan di hari-hari terakhir. Dia selalu meminta untuk pulang ke tanah kelahirannya.

Namun karena fisik yang tidak mendukung, dibarengi muntah-muntah saat berkendara. Akhirnya, anak-anaknya memutuskan untuk tidak membawanya ke jawa dan tetap berada di Lampung.

Suaminyi bernama Marto Rejo, telah meninggal sekitar 18 tahun yang lalu. Dia memiliki 6 anak, 4 laki-laki dan 2 perempuan.

Dia sangat menyayangi cucu-cucunya. Saya-lah cucu ketiga dari anak sulung perempuannya.

Masih teringat jelas di fikiran saya, ketika di sela-sela sekembalinya saya dari bekerja, kemudian menemuinya.

Dia selalu bercerita tentang pengalaman hidupnya. Bagaimana dia menghidupi anak-anaknya ditengah kesulitan dengan hanya mengadalkan jualan sayuran, kamis dan minggu di pasar.

Dia pun pernah bercerita betapa perihnya ketika dia diusir oleh kakak tertuanya dari pulau jawa.

Dia rajin bekerja, meskipun usianya tidak lagi muda.

Dia tidak pernah mengeluh, meskipun hidupnya selalu diranda keluh.

Dia tidak pernah meminta belas kasih, meskipun dirumahnya tidak ada lagi nasi untuk dijadikan konsumsi.

Dia-lah mbok Sadikem, nenek tangguh berusia 103 tahun yang pernah hidup di era-20. Selamat jalan nenek, semoga Allah selalu mengampuni dosa-dosamu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *